Gloomy Monday, It's Okay Part 1
Malam itu terasa lengkap. Setelah lelah badan ini remuk tanpa sebab, ditambah lagi curhatan rekan kerja yang sebenarnya malas untuk aku dengarkan. Dia mencintai wanita yang kucintai. Dia teman dekatku juga mencintai saudara jauhnya. Yang kucintai.
"Banyak sekali? kau playboy? Sepertinya kamu akan terus menjadi playboy deh ca."
Kalimat itu terlintas lagi di pikiranku malam itu. Kalimat itu seolah menjadi kutukan abadi untukku, yang pernah ia ucapkan dua tahun lalu. Entahlah, dari dulu aku memang tak suka setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Namun herannya, semua orang menyukainya. Semua orang menganggapnya itu hal yang lazim. Mereka menganggapnya quotes motivasi. Tapi tidak bagiku. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kutukan untukku yang sulit menerima kebenaran.
Lupakan. Anggap saja kalimat itu hanya pemanis cerita ini. Tanpanya pun tak akan lengkap cerita ini.
Memang benar katanya. Terlalu banyak yang aku cinta dan terlalu cepat aku jatuh cinta. Pada siapa? Siapapun yang menarik dimataku. Sebab kecerobohan orang jatuh cinta itu, karena tidak menjaga matanya. Sesungguhnya cinta itu datang dari mata lalu turun ke hati.
Mereka 2 Tahun lebih tua dariku. Dan aku mencintai keduanya. Namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Hanya selang beberapa minggu saja.
Pertama Tian. Tian adalah rekan kerjaku meski tidak satu kantor. Aku mencintainya karena kelebihannya. Lagi-lagi karena kelebihannya. Dia cantik. Ya tentu saja kalian pasti sudah menduga apa yang aku sebutkan pertama kali... Dia tinggi, baik, ceria, dan memiliki sifat keibuan. Dan yang paling aku suka, dia sedang belajar taat pada perintah Allah. Dia sedang belajar ilmu agama. Duuh idaman banget...
Tapi siang itu, di jam makan siang di rumah makan masakan padang, dan setelah kemarin kami main ke Pandeglang dalam rangka acara bakar-bakaran, salah seorang rekan kerjaku Hamdan cerita tentangnya kepadaku. Kalau dia mulai suka dengannya karena kedekatannya kemarin.
Lagi-lagi sifat buruk ku keluar. Aku pura pura ikut senang dan mendukungnya. Padahal di hati ini emosi bergejolak. Hati kecil berteriak "Bohong!". Ramai sekali. Seolah ia tak terima aku bertopeng bahagia padahal dibalik itu aku merasa kesal dan kecewa. Tak apa, aku tak boleh kehilangan temanku. Apapun kondisinya, aku harus mendukungnya.
"Ca, Tian itu orangnya asik ya. Baik, Calm, Manis lagi. hahahaha" ujarnya
"Hahahaha iya... kemaren ngobrol tah?" balasku
"Iya ca, asik seharian sama Tian hahaha"
Ya Allah, kenapa aku membohongi hati? Aku tak terima dia menyukainya. Aku tak terima kalau sampai dia menikah dengannya. Tapi apa boleh buat? Aku masih jauh dengannya. Biarlah aku terima kenyataan ini.
Dan tak lama itu, di hari yang sama, dia bercerita lagi kepadaku. Malam itu aku bertemu dengannya di kampus. Di jam senggang setelah Mata kuliah kalkulus berakhir. Seperti biasa awalnya kami mengobrol seputar kerjaan. Tapi ujung-ujungnya dia membahas Tian lagi. Parahnya, dia sedang mendekatinya lewat obrolan mesengger blackberry. Lagi lagi aku tersenyum palsu padahal menahan rasa perih.
Namun aku berusaha mengambil hikmahnya. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas segala apa yang aku keluhkan di dalam do'aku setiap kali aku sholat dhuha. Aku menginginkan dekatkanlah aku dengan jodohku, dan jauhkan lah aku dengan dia yang bukan jodohku. Benar saja, mungkin dia bukanlah jodohku.
"Banyak sekali? kau playboy? Sepertinya kamu akan terus menjadi playboy deh ca."
Kalimat itu terlintas lagi di pikiranku malam itu. Kalimat itu seolah menjadi kutukan abadi untukku, yang pernah ia ucapkan dua tahun lalu. Entahlah, dari dulu aku memang tak suka setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Namun herannya, semua orang menyukainya. Semua orang menganggapnya itu hal yang lazim. Mereka menganggapnya quotes motivasi. Tapi tidak bagiku. Kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kutukan untukku yang sulit menerima kebenaran.
Lupakan. Anggap saja kalimat itu hanya pemanis cerita ini. Tanpanya pun tak akan lengkap cerita ini.
Memang benar katanya. Terlalu banyak yang aku cinta dan terlalu cepat aku jatuh cinta. Pada siapa? Siapapun yang menarik dimataku. Sebab kecerobohan orang jatuh cinta itu, karena tidak menjaga matanya. Sesungguhnya cinta itu datang dari mata lalu turun ke hati.
Mereka 2 Tahun lebih tua dariku. Dan aku mencintai keduanya. Namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Hanya selang beberapa minggu saja.
Pertama Tian. Tian adalah rekan kerjaku meski tidak satu kantor. Aku mencintainya karena kelebihannya. Lagi-lagi karena kelebihannya. Dia cantik. Ya tentu saja kalian pasti sudah menduga apa yang aku sebutkan pertama kali... Dia tinggi, baik, ceria, dan memiliki sifat keibuan. Dan yang paling aku suka, dia sedang belajar taat pada perintah Allah. Dia sedang belajar ilmu agama. Duuh idaman banget...
Tapi siang itu, di jam makan siang di rumah makan masakan padang, dan setelah kemarin kami main ke Pandeglang dalam rangka acara bakar-bakaran, salah seorang rekan kerjaku Hamdan cerita tentangnya kepadaku. Kalau dia mulai suka dengannya karena kedekatannya kemarin.
Lagi-lagi sifat buruk ku keluar. Aku pura pura ikut senang dan mendukungnya. Padahal di hati ini emosi bergejolak. Hati kecil berteriak "Bohong!". Ramai sekali. Seolah ia tak terima aku bertopeng bahagia padahal dibalik itu aku merasa kesal dan kecewa. Tak apa, aku tak boleh kehilangan temanku. Apapun kondisinya, aku harus mendukungnya.
"Ca, Tian itu orangnya asik ya. Baik, Calm, Manis lagi. hahahaha" ujarnya
"Hahahaha iya... kemaren ngobrol tah?" balasku
"Iya ca, asik seharian sama Tian hahaha"
Ya Allah, kenapa aku membohongi hati? Aku tak terima dia menyukainya. Aku tak terima kalau sampai dia menikah dengannya. Tapi apa boleh buat? Aku masih jauh dengannya. Biarlah aku terima kenyataan ini.
Dan tak lama itu, di hari yang sama, dia bercerita lagi kepadaku. Malam itu aku bertemu dengannya di kampus. Di jam senggang setelah Mata kuliah kalkulus berakhir. Seperti biasa awalnya kami mengobrol seputar kerjaan. Tapi ujung-ujungnya dia membahas Tian lagi. Parahnya, dia sedang mendekatinya lewat obrolan mesengger blackberry. Lagi lagi aku tersenyum palsu padahal menahan rasa perih.
Namun aku berusaha mengambil hikmahnya. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas segala apa yang aku keluhkan di dalam do'aku setiap kali aku sholat dhuha. Aku menginginkan dekatkanlah aku dengan jodohku, dan jauhkan lah aku dengan dia yang bukan jodohku. Benar saja, mungkin dia bukanlah jodohku.
Komentar
Posting Komentar